Selasa, 25 Februari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
PENDEKATAN PROMOSI KESEHATAN
Posted by Ricky Satria on Selasa 28-04-2014
A. STRATEGI GLOBAL
Berdasarkan rumusan WHO (1994), strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal, yaitu:
1. Advokasi (Advocacy)
Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain, agar orang lain terse but membantu atau mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan, advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan at au penentu kebijakan di berbagai sektor, dan di berbagai tingkat, sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Dukungan dari para pejabat pembuat keputusan tersebut dapat berupa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, surat keputusan, surat instruksi, dan sebagainya. Kegiatan advokasi ini ada bermacam-macam bentuk, baik secara formal inaupun informal. Secara formal misalnya, penyajian atau presentasi dan seminar tentang issu atau usulan program yang ingin dimintakan dukun~an dari para pejabat yang terkait. Kegiatan advokasi secara informal misalnya sowan kepada para pejabat yang relevan dengan program yang diusulkan, untuk secara informal minta dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, atau mungkin dalam bentuk dana atau fasilitas lain. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa sasaran advokasi adalah para pejabat baik eksekutif maupun legislatif, di berbagai tingkat dan sektor, yang terkait dengan masalah kesehatan (sasaran tertier)
2. Dukungan Sosial (Social support)
Strategi dukungan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat (toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat, sebagai jembatan antara sektor kesehatan sebagai (pelaksana program kesehatan) dengan masyarakat (penerima program) kesehatan. Dengan kegiatan mencari dukungan sosial melalui toma pada dasarnya adalah mensosialisasikan program-program kesehatan, agar masyarakat mau menerima dan mau berpartisipasi terhadap program kesehatan tersebut. Oleh sebab itu, strategi ini juga dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina suasana yang kondusif terliadap kesehatan. Bentuk kegiatan dukungan sosial ini antara lain: pelatihan-pelatihan para toma, seminar, lokakarya, bimbingan kepada toma, dan sebagainya. Dengan demikian maka sasaran utama dukungan sasial atau bina suasana adalah para tokoh masyarakat di berbagai tingkat (sasaran sekunder).
3. Pemberdayaan Masyarakat (Empowerment)
Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat langsung. Tujuan utama pember¬dayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (visi promosi kesehatan). Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, antara lain: penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya: koperasi, pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga (income gener¬ating skill). Dengan meningkatnya kemampuan ekonomi keluarga akan berdampak terhadap kemampuan dalam peme¬liharan kesehatan mereka, misalnya: terbentuknya dana sehat, terbentuknya pos obat desa, berdirinya polindes, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan semacam ini di masyarakat sering disebut "gerakan masyarakat" untuk kesehatan. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sasaran pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat (sasaran primer).
B. STRATEGI BERDASARKAN OTAWA CHARTER
Konferensi lnternasional Promosi Kesehatan di Ottawa¬ Canada pada tahun 1986 menghasilkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter). Di dalam Piagam Ottawa tersebut dirumuskan pula strategi baru promosi kesehatan, yang mencakup 5 butir, yaitu:
1. Kebijakan Berwawasan Kebijakan (Healthy Public Policy)
Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang ditujukan kepada para penentu atau pembuat kebijakan, agar mereka mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung atau menguntungkan kesehatan. Dengan perkataan lain, agar kebijakan-kebijakan dalam bentuk peraturan, perundangan, surat-surat keputusan, dan sebagainya, selalu berwawasan atau berorientasi kepada kesehatan publik. Misalnya, ada paraturan atau undang-undang yang mengatur adanya analisis dampak lingkungan untuk mendirikan pabrik, perusahaan, rumah sakit, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pejabat publik, harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan (kesehatan masyarakat).
2. Lingkungan yang Mendukung (Supportive Environment)
Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum, termasuk pemerintah kota, agar mereka menyediakan sarana¬prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku sehat bagi masyarakat, atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-tempat umum tersebut. Lingkungan yang mendukung kesehatan bagi tempat-tempat umum antara lain: tersedianya temp at sampah, tersedianya temp at buang air besar/kecil, tersedianya air bersih, tersedianya ruangan bagi perokok dan non-perokok, dan sebagainya. Dengan perkataan lain, para pengelola tempat-tempat umum, pasar, terminal, stasiun kereta api, bandara, pelabuhan, mall, dan sebagainya, harus menyedia¬kan sarana-prasarana untuk mendukung perilaku sehat bagi pengunjungnya.
3. Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Sudah nienjadi pemahaman masyarakat pada umumnya, bahwa dalam pelayanan kesehatan itu ada "provider" dan "con¬sumer". Penyelenggara (penyedia) pelayanan kesehatan adalah pemerintah dan swasta dan masyarakat adalah sebagai pemakai atau pengguna pelayanan kesehatan. Pemahaman semacam ini harus diubah, harus direorientasi lagi, bahwa masyarakat bukan hanya sekadar pengguna atau penerima pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus juga sebagai penyelenggara juga, dalam batas¬-batas tertentu. Realisasi dari reorientasi pelayanan kesehatan ini adalah, para penyelenggara pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta harus melibatkan, bahkan member¬dayakan masyarakat agar mereka juga dapat berperan bukan hanya sebagai penerima pelayanan kesehatan, tetapi juga seka¬ligus sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan masayarakat. Dalam mereorientasikan pelayanan kesehatan ini peran promosi kesehatan sangat penting.
4. Keterampilan individu (Personnel Skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregat, yang rerdiri dari individu, keluarga, dan kelompok-kelompok. Oleh sebab, itu, kesehatan masyarakat akan terwujud apabila kesehatan individu-individu, keluarga-keluarga, dan kelompok¬kelompok terse but terwujud. Oleh sebab itu, strategi untuk mewujudkan keterampilan individu-individu (personnel skill) dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah sangat penting. Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam memelihara dan meningkatan kesehatan mereka ini adalah mem¬berikan pemahaman-pemahaman kepada anggota masyarakat tentang cara-cara memelihara kesehatan, mencegah penyakit, mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan profesional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Metode dan teknik pemberian pemahaman ini lebih bersifat individual daripada massa.
5. Gerakan Masyarakat (Community Action)
Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya seperti tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di dalam masyarakat itu sendiri harus ada gerakan atau kegiatan-kegiatan untuk kesehatan. Oleh sebab itu, promosi kesehatan harus men¬dorong dan memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam mewujudkan kesehatan mereka. Tanpa adanya kegiatan masya¬rakat di bidang kesehatan, niscaya terwujud perilaku yang kon¬dusif untuk kesehatan, atau masyarakat yang mau dan mampu memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.
Selasa, 28/01/2014 14:09 WIB
Gede Pasek Curhat 5 Kali 'Dipecat' PD
by Ricky
"Sejak KLB saya yang mengusulkan agar Pak SBY jadi ketua umum (Demokrat). Pasca KLB saya dicopot dari Ketua Divisi Komunikasi Publik (DPP). Saya diam karena itu sesuai mekanisme dan hak beliau," kata Gede Pasek Suardika di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/1/2014).
Setelah diberhentikan dari jabatan DPP, Pasek kemudian dicopot dari jabatannya sebagai ketua komisi III DPR, digantikan Pieter Zulkufli. Padahal, Pasek merasa tak punya 'rapot merah' sebagai ketua komisi hukum.
"Saya diam, karena itu mekanismenya benar (hak fraksi)," ujarnya.
"Ketiga saya dicopot sebagai wakil ketua fraksi Partai Demokrat, saya diam karena saya anggap itu benar," imbuh Pasek.
Lalu keempat, Pasek dipindahkan dari komisi III ke komisi IX. Saat itu lagi-lagi Pasek hanya bisa diam karena itu hak ketua fraksi dan mekanismenya benar.
"Kelima saya di PAW, saya lawan karena mekanismenya salah," tegasnya.
"Orang Bali itu orang yang harmonis kok, nggak suka buat ribut. Tapi seandainya dianiaya sampai sekian kali, ayam aja disembelih gerak-gerak kok," ucap politisi asal Bali itu.
Pasek mengatakan, perlawanan itu harus dilakukan karena dianggap tindakan sepihak dan semena-mena, terlebih menyalahir prosedur.
"Kalau prosedur benar, oke. Tapi prosedurya harus teruji, tidak penafsiran sendiri. Soal prosedur sudah diatur dalam kode etik dan pedoman kode etik PD yang ditandatangani SBY dan Amir Syamsuddin," ucapnya.
http://news.detik.com/read/2014/01/28/140934/2480603/10/gede-pasek-curhat-5-kali-dipecat-pd?9911012
Senin, 20 Januari 2014
Pantau Banjir, SBY Telepon Jokowi dari Bali
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghubungi Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo
Menurut Julian, Presiden turut prihatin atas bencana banjir yang
melanda DKI Jakarta. Presiden, kata dia, juga memberikan atensi langsung
atas peristiwa bencana tahunan tersebut.
"Presiden terus memantau banjir Jakarta dan telah menelepon langsung Gubernur DKI Jakarta, Pak Jokowi," kata Julian.
Ia melanjutkan, pemerintah pusat memberikan prioritas kepada
Pemprov DKI untuk menangani masalah banjir di ibu kota. Namun, apabila
dibutuhkan, pemerintah pusat siap mendukung penanganan banjir.
"Jadi, apa pun yang dibutuhkan, bilamana diperlukan uluran atau
bantuan, apabila diperlukan penanganan langsung dari pemerintah pusat,
dalam hal ini kita siap. Komitmen itu jelas, dan ini dikoordinasikan di
bawah pemda masing-masing," ujarnya.
Menurut Julian, mengenai apa yang dibutuhkan untuk menanggulangi
bencana banjir Jakarta, pemerintah pusat menunggu laporan pejabat
terkait mengenai apa yang diperlukan oleh warga Jakarta.
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/474780-pantau-banjir--sby-telepon-jokowi-dari-bali
Rabu, 25 Januari 2012
Mengungkap Manfaat Vitamin C
OBAT & VITAMIN - ARTIKEL
Mengungkap Manfaat Vitamin C
Ricky Satria | Jumat, 20 Januari 2012 | 13:58 WIB
Dibaca: 4951
Shutterstock
Jeruk salah satu sumber vitamin CTERKAIT:
Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan manfaat vitamin C dalam menurunkan kadar kolesterol dan memproduksi bahan kimia tertentu pada otak. Selain itu, tingginya kandungan antioksidan pada vitamin C juga dapat menyapu radikal bebas yang merusak sel-sel dalam tubuh.
Dari sekian banyak manfaat yang telah dijabarkan, ternyata masih banyak lagi manfaat dari vitamin C yang belum terungkap, seperti dikutip Besthealthmag berikut ini:
1. Mencegah stroke
Ada banyak bukti bahwa diet tinggi antioksidan yang kaya buah dan sayuran membantu menangkal penyakit kardiovaskular. Namun beberapa studi penting menunjukkan bahwa mereka dengan tingkat tertinggi vitamin C dalam tubuh mereka berada pada risiko terendah untuk menderita stroke (terutama pada wanita).
2. Melawan kanker
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa wanita yang mengasup banyak vitamin C dari makanan seperti buah-buahan atau sayur (bukan suplemen), memiliki risiko lebih rendah terkena kanker payudara. Bahkan beberapa riset mengindikasikan vitamin C sebagai racun bagi sel-sel kanker tertentu.
3. Meningkatkan mood
Sejak dulu sudah diketahui bahwa kekurangan vitamin C dapat menyebabkan perubahan psikologis. Belum lama ini, peneliti dari McGill University menunjukkan bahwa pemberian suplemen vitamin C (500 mg dua kali sehari) bagi pasien rawat inap yang kekurangan vitamin C, secara signifikan membantu meningkatkan suasana hati mereka.
4. Mengobati infeksi vagina (BV)
Infeksi vagina merupakan penyebab paling umum dari keputihan dan biasanya menimbulkan bau tidak sedap, yang memengaruhi hingga 30 persen wanita hamil dan sepersepuluh wanita yang tidak hamil. Dua studi terbaru menunjukkan bahwa pemberian vitamin C tablet untuk vagina (250 mg selama enam hari) dapat mengobati bacterial vaginosis (BV) dengan cara menurunkan pH vagina dan mengembalikan ke kondisi semula.
5. Memperbaiki kulit
Vitamin C adalah antioksidan yang paling banyak dibutuhkan kulit, di mana ia membantu menetralkan radikal bebas yang menumpuk akibat paparan sinar matahari dan usia. "Pemberian vitamin C yang dikombinasi dengan bahan lain, memperbaiki beberapa tanda-tanda penuaan termasuk garis-garis halus, pigmentasi tidak merata, warna kulit dan tekstur," kata Dr Mariusz Sapijaszko, direktur medis dari Youthful Image Cosmetic Surgery Clinic dan seorang profesor dermatologi di University of Alberta.
6. Berapa dosis yang diperlukan?
Angka asupan vitamin C yang direkomendasikan sebenarnya masih menjadi perdebatan dan bervariasi pada setiap negara. Badan Kesehatan Dunia (WHO) misalnya menetapkan hanya 45 mg sehari, Food Standard Agency di Inggris sebesar 40 mg per hari, dan National Academy of Sciences di Amerika Serikat antara 60 - 95 mg per hari. Di AS, jumlah asupan maksimal yang masih dapat ditoleransi adalah 2.000 milligram per hari.
Sumber terbaik vitamin C berasal dari buah segar, sayuran dan jus. Setengah cangkir (125 ml) jus jeruk mengandung sekitar 50 mg vitamin C. Selain jeruk, Anda bisa mendapatkan sumber vitamin C lainnya dari kiwi, stroberi, paprika, dan sayuran brassica seperti brokoli dan kubis.
Kitosan-Kurkumin Pemburu Sel Kanker
OBAT & VITAMIN - ARTIKEL
Kitosan-Kurkumin Pemburu Sel Kanker
Ricky Satria | Jumat, 1 Juli 2011 | 09:24 WIB
Dibaca: 20595
Shutter Stock
TERKAIT:
Oleh: Nawa TUnggal
Para peneliti Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, tahun 2003 memperoleh paten Pentagamavunon-0 di Amerika Serikat, yaitu sebuah senyawa hasil modifikasi kurkumin penghambat sel kanker. Kini dikembangkan kitosan nanopartikel untuk membawa kurkumin agar lebih efektif menyasar sel-sel kanker.
Ini (modifikasi kurkumin) menjadi obat antikanker dengan kombinasi kitosan yang melapisi kurkumin dalam ukuran nanopartikel,” kata dosen dan peneliti pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Ronny Martien, Kamis (23/6), setelah menerima penghargaan dan dana bantuan penelitian dari Biro Oktroi dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta.
Ronny merupakan satu di antara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Ronny mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.
Judul penelitiannya ”Pemanfaatan Kitosan dalam Meningkatkan Bioavailibilitas Senyawa Pentagamavunon-0 (PGV-0) sebagai Obat Analgetik-Antiinflamasi dengan Formulasi Nanopartikel”.
PGV-0 merupakan turunan analog kurkumin yang diperoleh dari rimpang kunyit dan temulawak. Menurut Ronny, PGV-0 diteliti UGM bekerja sama dengan Belanda.
Lalu, PGV-0 dipatenkan di AS dengan Nomor Paten US-6.777. 447B2. Ini mengingat banyak dilakukan riset kurkumin di negara ini dan telah menghasilkan beberapa paten pula. Kurkumin itu diperoleh dari kunyit dan temulawak yang banyak diekspor Indonesia ke AS.
PGV-0 terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-2) yang terdapat pada sel-sel kanker. Ekspresi enzim COX-2 cenderung terus meningkat di dalam sel kanker sehingga harus dihambat untuk proses penyembuhannya.
”PGV-0 sebagai obat antikanker juga punya kelemahan berupa tingkat keterlarutan dalam air yang tergolong rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan kitosan dengan keterlarutan di dalam air yang tinggi,” kata Ronny.
Melimpah
Ronny mengemukakan, obat antikanker dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kurkumin dengan kitosan berukuran 2-5 nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah.
”Ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini memiliki ukuran nanopartikel,” kata Ronny.
Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogeniser yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relatif mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut.
”Saat ini belum ada industri yang menyatakan ingin bekerja sama untuk mengembangkan riset ini dan memproduksi obatnya di kemudian hari,” katanya.
Menurut dia, kelimpahan bahan baku merupakan modal utama pengembangan obat itu pada masa depan. PGV-0 mudah diperoleh dari kurkumin rimpang kunyit dan temulawak yang memiliki habitat cocok di wilayah tropis di Indonesia.
Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang-udangan, termasuk cangkang kepiting. Cangkang udang, misalnya, diperkirakan mencakup 30-70 persen bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah.
Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa.
Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif.
”Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negatif,” kata Ronny.
Obat antikanker dengan kombinasi kitosan dan kurkumin—lebih tepatnya adalah PGV-O dengan ukuran nanopartikel—ini dimasukkan secara oral ke tubuh penderita.
Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. Obat akan bekerja ketika menjumpai sel-sel kanker, terutama menghambat enzim COX-2 pada sel-sel kanker.
”Kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel,” kata Ronny.
Pada pengembangannya nanti, drug itu bisa diubah apa saja sesuai kebutuhan pasien. Obat dengan ukuran nanopartikel akan mengurangi dosis, tetapi Ronny mengakui, hasil penelitiannya belum mencapai presisi target.
”Para peneliti farmasi di dunia sekarang sedang mengejar metode pencapaian target penyakit secara presisi untuk diobati dengan obat nanopartikel ini,” ujar Ronny.
Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.
Para peneliti Fakultas Farmasi, UGM, Yogyakarta, tahun 2003 memperoleh paten Pentagamavunon-0 di Amerika Serikat, yaitu sebuah senyawa hasil modifikasi kurkumin penghambat sel kanker. Kini dikembangkan kitosan nanopartikel untuk membawa kurkumin agar lebih efektif menyasar sel-sel kanker.
Ini (modifikasi kurkumin) menjadi obat antikanker dengan kombinasi kitosan yang melapisi kurkumin dalam ukuran nanopartikel,” kata dosen dan peneliti pada Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada, Ronny Martien, Kamis (23/6), setelah menerima penghargaan dan dana bantuan penelitian dari Biro Oktroi dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Jakarta.
Ronny merupakan satu di antara empat peneliti muda lainnya yang diberi hibah dana penelitian oleh Biro Oktroi dan AIPI. Ronny mengajukan usulan penelitian bidang Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.
Judul penelitiannya ”Pemanfaatan Kitosan dalam Meningkatkan Bioavailibilitas Senyawa Pentagamavunon-0 (PGV-0) sebagai Obat Analgetik-Antiinflamasi dengan Formulasi Nanopartikel”.
PGV-0 merupakan turunan analog kurkumin yang diperoleh dari rimpang kunyit dan temulawak. Menurut Ronny, PGV-0 diteliti UGM bekerja sama dengan Belanda.
Lalu, PGV-0 dipatenkan di AS dengan Nomor Paten US-6.777. 447B2. Ini mengingat banyak dilakukan riset kurkumin di negara ini dan telah menghasilkan beberapa paten pula. Kurkumin itu diperoleh dari kunyit dan temulawak yang banyak diekspor Indonesia ke AS.
PGV-0 terbukti memiliki kemampuan menghambat enzim cyclooxygenase (COX-2) yang terdapat pada sel-sel kanker. Ekspresi enzim COX-2 cenderung terus meningkat di dalam sel kanker sehingga harus dihambat untuk proses penyembuhannya.
”PGV-0 sebagai obat antikanker juga punya kelemahan berupa tingkat keterlarutan dalam air yang tergolong rendah sehingga perlu dikombinasikan dengan kitosan dengan keterlarutan di dalam air yang tinggi,” kata Ronny.
Melimpah
Ronny mengemukakan, obat antikanker dengan teknologi nanopartikel ini ditempuh melalui enkapsulasi kurkumin dengan kitosan berukuran 2-5 nanometer. Ketersediaan bahan baku untuk kurkumin dan kitosan melimpah sehingga berpeluang menjadi obat murah.
”Ada dua cara untuk menjadikan kitosan dan kurkumin ini memiliki ukuran nanopartikel,” kata Ronny.
Kedua metode itu meliputi top down dan bottom up. Metode top down menggunakan prinsip fisika dengan peralatan homogeniser yang belum ada di Indonesia dan biayanya menjadi relatif mahal. Metode bottom up pada prinsipnya ditempuh proses secara kimia dengan mencampurkan kitosan dan kurkumin tersebut.
”Saat ini belum ada industri yang menyatakan ingin bekerja sama untuk mengembangkan riset ini dan memproduksi obatnya di kemudian hari,” katanya.
Menurut dia, kelimpahan bahan baku merupakan modal utama pengembangan obat itu pada masa depan. PGV-0 mudah diperoleh dari kurkumin rimpang kunyit dan temulawak yang memiliki habitat cocok di wilayah tropis di Indonesia.
Kitosan terbuat dari kitin yang terkandung di dalam cangkang udang-udangan, termasuk cangkang kepiting. Cangkang udang, misalnya, diperkirakan mencakup 30-70 persen bagian dari tubuh udang sendiri sehingga cangkang menjadi limbah yang melimpah.
Melalui proses pemurnian, cangkang akan menghasilkan kitin sebagai senyawa aminopolisakarida yang mampu mengikat 4-5 kali berat lemak ketimbang berat kitin itu sendiri. Untuk menjadikan kitin sebagai kitosan, ditempuh melalui proses hidrolisis kitin dengan asam dan basa.
Kitosan merupakan kitin yang telah dihilangkan gugus asetilnya, lalu menyisakan gugus amina bebas yang menjadikan kitosan bersifat polikationik atau ion bermuatan positif.
”Karena muatan kitosan yang positif ini bisa ditempelkan dengan kurkumin yang bermuatan negatif,” kata Ronny.
Obat antikanker dengan kombinasi kitosan dan kurkumin—lebih tepatnya adalah PGV-O dengan ukuran nanopartikel—ini dimasukkan secara oral ke tubuh penderita.
Obat nanopartikel ini selanjutnya mudah diserap dan masuk ke pembuluh darah dan jaringan sel. Obat akan bekerja ketika menjumpai sel-sel kanker, terutama menghambat enzim COX-2 pada sel-sel kanker.
”Kurkumin dalam hal ini sebagai drug atau obat yang ingin diantar dengan kitosan nanopartikel,” kata Ronny.
Pada pengembangannya nanti, drug itu bisa diubah apa saja sesuai kebutuhan pasien. Obat dengan ukuran nanopartikel akan mengurangi dosis, tetapi Ronny mengakui, hasil penelitiannya belum mencapai presisi target.
”Para peneliti farmasi di dunia sekarang sedang mengejar metode pencapaian target penyakit secara presisi untuk diobati dengan obat nanopartikel ini,” ujar Ronny.
Kelimpahan bahan baku obat nanopartikel menjadi modal utama. Namun, ketekunan dan keseriusan semua pihak untuk mendukung riset ini tak kalah penting. Bahkan, amat penting.
Optimalkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak
Gizi
Kompas.com - Bayi baru lahir sampai berusia dua tahun disebut oleh para pakar gizi sebagai bagian dari kelompok Window of Opportunity. Jika bayi sejak di kandungan kekurangan gizi dan berlanjut sampai ia berusia dua tahun, hilanglah kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidupnya di masa datang.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) saat ini menyoroti pentingnya mengoptimalkan kualitas gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupannya. 1.000 hari pertama itu meliputi 270 hari dalam kandungan dan 730 hari pada pertumbuhan awal atau dua tahun pertama.
Ali Khomsan, Guru Besar dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, menjelaskan bahwa masa 1.000 hari pertama tersebut bersifat ireversible alias tidak dapat digantikan dan diperbaiki.
"Pertumbuhan balita adalah sebuah jendela kesempatan, jika terlewat kita tidak bisa kembali lagi dan kerusakannya permanen," katanya dalam sebuah acara revitalisasi posyandu di Bekasi, Jawa Barat (24/1).
Berdasarkan kajian dari berbagai studi tentang pengaruh kekurangan gizi pada pengembangan kecerdasan anak, Martorell menyimpulkan bahwa kekurangan gizi berdampak pada perubahan perilaku sosial, berkurangnya perhatian atau kemampuan konsentrasi, menurunnya kemampuan belajar, serta rendahnya hasil belajar.
"Dampak kekurangan gizi pada kemampuan kognitif tidak hanya terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk tapi juga anak yang mengalami gangguan pertumbuhan atau anak pendek," kata Prof.Fasli Jalal, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
Gizi berperan dalam proses pembelahan sel syaraf otak sehingga jumlah sel bertambah banyak. Gizi juga amat menentukan pertumbuhan sel syaraf sehingga ukurannya menjadi lebih besar. Karena itu anak yang cerdas adalah anak-anak yang terpenuhi kebutuhan zat-zat gizinya.
Dibandingkan sejumlah negara di Asia, kondisi gizi di Indonesia memprihatinkan. Sebagai contoh, tingkat konsumsi susu di Indonesia hanya 7 liter per kapita tiap tahun per orang. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 20 liter per kapita per tahun.
Sementara itu, asupan gizi makro di Indonesia, khususnya protein dan kalori, masih rendah. Apabila kekurangan gizi makro, tumbuh kembang anak akan terhambat yang ditandai dengan berat badan kurang.
Perbaikan gizi, menurut Ali, perbaikan gizi hendaknya dimulai sejak dalam masa kehamilan, saat menyusui, hingga anak berusia dua tahun. "Mulai dengan melakukan inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI ekslusif. Setelah anak mulai mendapat makanan pendamping ASI, perhatikan jumlah, jenis, jadwal dan keamanan makanan anak," imbuhnya.
Untuk mendukung kecukupan gizi anak, variasikan jenis makanan dan juga rasa makanan seperti rasa manis, asin, dan gurih, serta sedikit asam agar bayi dapat terlatih mengecap rasa. Perkenalkan juga dengan makanan selingan seperti bubur kacang hijau, puding dari susu, buah, serta biskuit.
Untuk protein hewani, selain daging ayam, dapat pula diperkenalkan pada daging sapi, ikan, dan telur. Perkenalkan aneka makanan tersebut secara bergantian. Dengan pengenalan aneka ragam makanan, kelak si kecil dapat terhindar dari kesulitan makan di usia selanjutnya.
Pada kelompok masyarakat tertentu, makanan bergizi sulit diperoleh sehingga kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tersebut karena tidak tersedia dalam makanan rumah tangga atau tersedia tetapi makanan tersebut harus dikonsumsi dalam jumlah banyak, jalan keluarnya adalah memberikan bubuk vitamin mineral (Taburia) yang ditaburkan pada makanan yang dibuat sendiri.
Taburia merupakan produk dari kementrian kesehatan. Cara penggunannya adalah ditaburkan pada makanan kemudian diaduk sampai merata. Taburia komersial juga sudah ada di pasaran.
Untuk mengetahui apakah anak sehat, orangtua secara berkala harus menimbang berat badan dan panjang badan di posyandu atau pusat layanan kesehatan. Jika dari penimbangan berat badan bayi dalam dua bulan berturut-turut tidak terjadi tambahan berat badan, kemungkinan pertumbuhan anak terganggu yang merupakan tanda awal kekurangan gizi.
Selain aspek fisik, optimalisasi periode emas dua tahun pertama juga dilakukan dengan pemberian stimulasi. "Perkembangan psikososial anak bisa dilatih dengan mengajak anak berkomunikasi, mengajak bercerita, bernyanyi, atau melakukan permainan," kata Mayke Tedjasaputra, M.Psi, dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Stimulasi kecerdasan anak hendaknya disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Optimalkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan Anak
Ricky Satria | Rabu, 25 Januari 2012 | 14:34 WIB
Dibaca: 2557
shutterstock
TERKAIT:
Organisasi kesehatan dunia (WHO) saat ini menyoroti pentingnya mengoptimalkan kualitas gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupannya. 1.000 hari pertama itu meliputi 270 hari dalam kandungan dan 730 hari pada pertumbuhan awal atau dua tahun pertama.
Ali Khomsan, Guru Besar dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, menjelaskan bahwa masa 1.000 hari pertama tersebut bersifat ireversible alias tidak dapat digantikan dan diperbaiki.
"Pertumbuhan balita adalah sebuah jendela kesempatan, jika terlewat kita tidak bisa kembali lagi dan kerusakannya permanen," katanya dalam sebuah acara revitalisasi posyandu di Bekasi, Jawa Barat (24/1).
Berdasarkan kajian dari berbagai studi tentang pengaruh kekurangan gizi pada pengembangan kecerdasan anak, Martorell menyimpulkan bahwa kekurangan gizi berdampak pada perubahan perilaku sosial, berkurangnya perhatian atau kemampuan konsentrasi, menurunnya kemampuan belajar, serta rendahnya hasil belajar.
"Dampak kekurangan gizi pada kemampuan kognitif tidak hanya terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk tapi juga anak yang mengalami gangguan pertumbuhan atau anak pendek," kata Prof.Fasli Jalal, dokter spesialis gizi klinik dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.
Gizi berperan dalam proses pembelahan sel syaraf otak sehingga jumlah sel bertambah banyak. Gizi juga amat menentukan pertumbuhan sel syaraf sehingga ukurannya menjadi lebih besar. Karena itu anak yang cerdas adalah anak-anak yang terpenuhi kebutuhan zat-zat gizinya.
Dibandingkan sejumlah negara di Asia, kondisi gizi di Indonesia memprihatinkan. Sebagai contoh, tingkat konsumsi susu di Indonesia hanya 7 liter per kapita tiap tahun per orang. Bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 20 liter per kapita per tahun.
Sementara itu, asupan gizi makro di Indonesia, khususnya protein dan kalori, masih rendah. Apabila kekurangan gizi makro, tumbuh kembang anak akan terhambat yang ditandai dengan berat badan kurang.
Perbaikan gizi, menurut Ali, perbaikan gizi hendaknya dimulai sejak dalam masa kehamilan, saat menyusui, hingga anak berusia dua tahun. "Mulai dengan melakukan inisiasi menyusu dini dan pemberian ASI ekslusif. Setelah anak mulai mendapat makanan pendamping ASI, perhatikan jumlah, jenis, jadwal dan keamanan makanan anak," imbuhnya.
Untuk mendukung kecukupan gizi anak, variasikan jenis makanan dan juga rasa makanan seperti rasa manis, asin, dan gurih, serta sedikit asam agar bayi dapat terlatih mengecap rasa. Perkenalkan juga dengan makanan selingan seperti bubur kacang hijau, puding dari susu, buah, serta biskuit.
Untuk protein hewani, selain daging ayam, dapat pula diperkenalkan pada daging sapi, ikan, dan telur. Perkenalkan aneka makanan tersebut secara bergantian. Dengan pengenalan aneka ragam makanan, kelak si kecil dapat terhindar dari kesulitan makan di usia selanjutnya.
Pada kelompok masyarakat tertentu, makanan bergizi sulit diperoleh sehingga kebutuhan gizinya tidak terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi tersebut karena tidak tersedia dalam makanan rumah tangga atau tersedia tetapi makanan tersebut harus dikonsumsi dalam jumlah banyak, jalan keluarnya adalah memberikan bubuk vitamin mineral (Taburia) yang ditaburkan pada makanan yang dibuat sendiri.
Taburia merupakan produk dari kementrian kesehatan. Cara penggunannya adalah ditaburkan pada makanan kemudian diaduk sampai merata. Taburia komersial juga sudah ada di pasaran.
Untuk mengetahui apakah anak sehat, orangtua secara berkala harus menimbang berat badan dan panjang badan di posyandu atau pusat layanan kesehatan. Jika dari penimbangan berat badan bayi dalam dua bulan berturut-turut tidak terjadi tambahan berat badan, kemungkinan pertumbuhan anak terganggu yang merupakan tanda awal kekurangan gizi.
Selain aspek fisik, optimalisasi periode emas dua tahun pertama juga dilakukan dengan pemberian stimulasi. "Perkembangan psikososial anak bisa dilatih dengan mengajak anak berkomunikasi, mengajak bercerita, bernyanyi, atau melakukan permainan," kata Mayke Tedjasaputra, M.Psi, dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Stimulasi kecerdasan anak hendaknya disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Eksplorasi Seniman Batik Asal Jerman
Eksplorasi Seniman Batik Asal Jerman
Joachim Blank menganggap batik sebagai sarana berekspresi yang lebih baik dari lukisan.
Rabu, 25 Januari 2012, 17:53 WIB
Posted by : Ricky Satria
Joachim Blank (VIVAnews/ Indrani Putri)
Tak puas hanya memandang koleksinya, Blank segera mengakrabi lilin dan canting, belajar membuat batik tulis. Kini, nama pria berkacamata ini dikenal sebagai salah satu seniman batik paling sohor di Jerman.
Yang pertama dipelajarinya adalah batik Jogja. Dari situ, ia berkreasi mencipta corak batik sendiri. "Tapi, saya selalu membuatnya dengan cara tradisional, seperti yang saya pelajari di Jogja," ujar Blank yang memamerkan karyanya di Galeri Nasional Indonesia.
Blank menerapkan tradisionalitas batik nusantara. Hanya menggunakan warna-warna alami, yang menurut dia lebih gampang dikreasikan. Ia juga mempertahankan penggunaan canting dan lilin atau blok kayu untuk membuat corak.
Untuk metode penciptaan warna, ia sesekali masih menggunakan metode celup. "Dalam beberapa karya, saya menggunakan metode gosok," ucapnya.
Blank menganggap batik sebagai sarana berekspresi yang lebih baik daripada lukisan. Lebih dari 300 karya sudah ia ciptakan.
Baginya, tidak ada perbedaan yang terlalu mencolok antara batik Eropa dan Indonesia. Ia menyebut kreasinya sebagai batik kontemporer, di mana seniman lebih bebas berkreasi tanpa terantuk pakem.
"Kalau dilihat dari sejarahnya, masing-masing daerah memiliki sejarah tradisi corak yang sangat panjang. Namun, karya satu seniman dengan seniman lainnya pasti tak sama, karena setiap orang memiliki ciri khasnya sendiri," katanya.
Seniman batik asal Jerman yang turut memamerkan karyanya adalah Rudolf Smend, kolektor batik dan pemilik galeri tekstil di Köln, Jerman. Sahabat mendiang maestro batik Iwan Tirta ini sempat berguru pada sejumlah nama besar dalam dunia perbatikan, seperti Bagong Kussudiardja.
"Saya dulu hanya anak muda yang mempelajari batik di Taman Sari, Yogyakarta, karena sangat cinta kepada tekstil. Sama sekali tak terpikir kalau suatu saat saya akan punya karya tekstil batik yang dipamerkan di Galeri Nasional," ujarnya.
Menurut Smend, sang sahabat turut memberi berkontribusi besar dalam penciptaan karyanya. Batik karya sang maestro yang tetap mencirikan Indonesia, meskipun sudah masuk kategori kontemporer menjadi inspirasi dalam menciptakan karya serupa, namun dengan sentuhan Eropa.
Ia berharap, pameran batik yang digelar mulai 25 Januari hingga 6 Februari 2012 itu akan membantu melestarikan batik sebagai salah satu karya seni mengagumkan di mata dunia. (art)
Baca juga: Batik Memikat Dunia, dari Mandela Sampai PBB
• VIVAnews
Kejaksaan Geledah Kantor Indosat
Kejaksaan Geledah Kantor Indosat
Kejaksaan menyita 24 dokumen terkait kasus penyalahgunaan frekuensi.
Rabu, 25 Januari 2012, 19:47 WIB
Posted by : Ricky Satria
IM2
"Penggeledahan dilakukan selama sekitar 6 jam dipimpin oleh Jaksa Andi Herman," kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Noor Rachmad, di Jakarta, Rabu 25 Januari 2012.
Dari penggeledahan, menurut Noor Rachmad, kejaksaan menyita 24 dokumen yang terdiri dari laporan keuangan, perizinan, dan akta-akta lainnya.
Dalam kasus ini, kejaksaan sudah menetapkan mantan Direktur Utama PT Indosat Mega Media (IM2) berinisial IA sebagai tersangka. IA ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan surat perintah penyidikan Nomor PRINT-04/F.2/Fd.1/01/2012 tertanggal 18 Januari 2012. Atas perbuatannya, negara diduga dirugikan hingga Rp3,8 triliun.
Noor menjelaskan, IA sebagai tesangka karena saat itu, PT Indosat Mega Media (IM2) sebenarnya tak pernah mengikuti seleksi pelelangan pita jaringan bergerak seluler IM2-2000 pada pita frekuensi 2,1 GHz.
Namun, PT IM2 menyelenggarakan jaringan itu melalui kerjasama yang dibuat antara PT IM2 dengan Indosat Tbk. Padahal, IM-2 adalah anak usaha Indosat. "Jadi sebetulnya, dia itu jaringannya internet," kata dia.
Hal inilah, kata Noor yang menyebabkan IM2 dinilai menyalahgunakan jaringan dan tanpa izin dari pemerintah.
"Kita tidak tahu di-mensub-kan atau me-ritel-kan, akhirnya dia kerjasama dengan IM2. IM2 notabene tidak punya hak memanfaatkan jalur tadi, karena tak pernah ikut lelang, tak pernah membayar kewajiban-kewajiban," kata dia.
Atas perbuatannya, IA dikenakan Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Saat ini, IA sudah dicegah bepergian ke luar negeri. (umi)
• VIVAnews
Big Ben Terancam Ambruk & Tenggelam di Thames
Big Ben Terancam Ambruk & Tenggelam di Thames
Biaya perbaikan Big Ben diperkirakan mencapai miliaran poundsterling.
Rabu, 25 Januari 2012, 17:58 WIB
Posted by : Ricky Satria
Kantor berita Reuters mengabarkan, puncak Big Ben selama tiga tahun belakangan secara kasat mata memang terlihat miring. Belakangan diketahui, kemiringan telah mencapai 46 sentimeter, diduga terpengaruh pengerjaan kereta bawah tanah Jubilee.
DPR Inggris yang bertanggung jawab atas menara jam setinggi 96 meter yang sudah berdiri sejak abad 19 ini pun menggelar rapat untuk membahas biaya perbaikan. Konon, biaya perbaikan Big Ben diperkirakan mencapai miliaran poundsterling.
Namun, seorang ahli konstruksi yang juga mengerjakan renovasi Menara Pisa di Italia mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Menurut dia, dibutuhkan waktu 10 ribu tahun bagi Big Ben untuk bisa ambruk.
Profesor John Burland dari Imperial College London juga mengatakan bahwa pengerjaan jalur kereta bawah tanah Jubilee pada 1990-an bukan penyebab kemiringan dan retakan pada Big Ben.
"Big Ben sudah miring selama bertahun-tahun," ujar Burland. "Ketika saya pertama kali mulai mengerjakan parkiran, terlihat jelas bahwa menara sudah miring."
Dia juga menepis ketakutan yang menyatakan gedung parlemen ini akan jatuh ke Sungai Thames. "Setiap bangunan tua pasti memiliki retakan. Intinya, retak dan kemiringan sudah ada sejak bertahun-tahun dan bukan karena Jalur Jubilee," tegas Burland. (art)
• VIVAnews
Pengguna Internet Mulai Bosan Media Sosial
Pengguna Internet Mulai Bosan Media Sosial
Generasi muda mulai memandang media sosial sebagai hal membosankan dan membuang waktu.
Rabu, 25 Januari 2012, 13:10 WIB
Generasi muda mulai memandang media sosial sebagai hal membosankan.
“Generasi muda mulai memandang media sosial sebagai hal yang membosankan, membingungkan, membuat frustrasi dan membuang waktu,” demikian disimpulkan sebuah studi yang dilakukan oleh Associated Chambers of Commerce and Industry of India (ASSOCHAM).
Generasi muda di negeri tersebut, kata studi itu, mulai mengalami kelelahan bersosial media dan cenderung mengurangi frekuensi login mereka ke jejaring sosial seperti Facebook, Google+, Twitter, Orkut, dan lain-lain; dibandingkan saat pertama mereka mendaftar.
Dalam studi yang dilakukan terhadap 2 ribu generasi muda berusia 12-25 tahun di 10 kota, juga terungkap bahwa banyak di antara mereka yang kini lebih memilih untuk menggunakan aplikasi mobile seperti BlackBerry Messenger, WhatsApp, Nimbuzz atau Google Talk untuk berkomunikasi dengan teman-teman mereka.
“Terlalu berlebihan menggunakan teknologi sudah mulai tampak di kalangan generasi muda dan keakraban mereka dengan media sosial tampaknya mulai terkikis,” kata Sekjen ASSOCHAM D.S. Rawat seperti dikutip dari News24, 25 Januari 2012.
Sekitar 55 persen responden menyebutkan mereka sengaja mengurangi waktu yang mereka habiskan di situs media sosial dan tidak lagi tergila-gila dengan situs-situs tersebut.
Lebih separuh dari 55 persen responden itu telah memangkas aktivitas mereka di situs media sosial juga menyatakan bahwa mereka telah menonaktifkan atau bahkan menghapus akun mereka dari situs-situs itu.
Dari sekitar 200 orang yang diwawancarai di New Delhi, 60 persen di antaranya menyebutkan bahwa mereka bosan melihat status update yang tak berguna secara terus menerus.
Sebagian besar pengguna situs media sosial juga menyatakan bahwa mereka awalnya membuat banyak akun, namun kini hanya menggunakan satu situs saja. Mayoritas responden juga menyatakan bahwa kecanduan jejaring sosial telah membuat mereka mengalami insomnia, depresi dan hubungan personal yang buruk dengan rekan-rekan mereka di dunia nyata.